<div style="text-align: justify;"> <span style="font-size: 14px;">SEDANG - 27/11/2018&nbsp;</span></div> <div style="text-align: justify;"> &nbsp;</div> <div style="text-align: justify;"> <span style="font-size: 14px;">Jerami&nbsp; yang merupakan limbah pertanaman padi, merupakan material yang potensial dan mudah didapatkan sehingga dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber pupuk bagi tanaman.&nbsp; Penggunaan jerami padi, juga sangat berpotensi untuk digalakkan sebagai sumber bahan organik insitu di lahan&nbsp; persawahan. Namun kadar hara jerami, terutama N sangat rendah, dan agak sukar lapuk. Akan tetapi jerami mengandung silikat (Si) cukup tinggi, yang jarang ditambahkan petani ke lahan persawahan serta kurang didapat pada bahan organik lainnya.</span></div> <div style="text-align: justify;"> &nbsp;</div> <div style="text-align: justify;"> <span style="font-size: 14px;">Kebiasaan petani di lapangan yang biasanya membakar jerami dan sangat jarang dimanfaatkan oleh petani sebagai sumber bahan organik merupakan suatu kebiasaan yang salah, selain menyebabkan kerusakan pada lingkungan ternyata juga menyebabkan kerusakan pada&nbsp; tanah areal persawahan karena lama kelamaan unsur hara yang terdapat pada tanah sawah akan selalu berkurang tanpa adanya pengembalian kembali.&nbsp;</span></div> <div style="text-align: justify;"> &nbsp;</div> <div style="text-align: justify;"> <span style="font-size: 14px;">Sekretaris Desa Sedang I Gusti Ngurah Suarnawa, S.Pd mengatakan &quot;<em>Dengan membakar jerami justru akan menghancurkan sebagian bahan organiknya. Pengolahan jerami membutuhkan tenaga, waktu, dan pekerjaan tambahan yang banyak, sehingga perlu dicari cara lain agar jerami tersebut dapat dimanfaatkan oleh para petani. Salah satu alternatif yaitu dengan pembuatan kompos</em>&quot;, ungkapnya. (004/KIMSDG)</span></div>
Stop Bakar Jerami Sesudah Panen!!
27 Nov 2018