Sejarah Desa Sedang

  • Dibaca: 1088 Pengunjung

Dalam babad Mengwi disebutkan bahwa lingkungan desa Sedang sabelunnya bernama desa Bhun diperintah oleh I Gusti Ngurah Bhun yang pada masa itu menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Mangupura. Kerajaan Mangupura yang sakarang dikenal dengan nama Mengwi, saat itu diperintah oleh Ida Cokorda Agung Mayun.

Pada suatu kesempatan. Ida Cokorda Agung Mayun mengadakan kunjungan ke desa Lambing. Di desa itu. Ida Cokorda mendengar selentingan berita bahwa penguasa tunggal desa Bhun yaitu I Gusti Ngurah Bhun berniat malepaskan diri dari kekuasaan kerajaan Mengwi. Guna memastikan kebenaran berita tersebut, maka Ida Cokorda memerintahkan I Gusti Ngurah Bhun untuk menghadap dia yang saat itu berada di dasa Lambing. Lambing adalah sebuah desa yang letaknya di sebelah utara dasa Bhun. I Gusti Ngurah Bhun menolak perintah Ida Cokorda. Penolakan bersebut membangkitkan kemarahan Ida Cokorda. Dia memutuskan untuk menyerang desa Bhun. I Gusti Ngurah Bhun ternyata telah siap menghadapi serangan. I Gusti Ngurah Bhun mendapatkan bala bantuan dari Dalem Sukawati dalam menghadapi serangan tersebut. Terjadi pertemputan sengit antara kedua belah pihak. Serangan I Gusti Ngurah Bhun berada di atas angin sehingga bisa mematahkan serangan kerajaan Mengwi. Ida Cokorda Agung Mayun pun tewas dalam pertempuran tersebut. Mendengar berita naas itu. I Gusti Ngurah Made Munggu adik sang narendra raja pergi memerintahkan Manca Sibang Serijati dan Penarungan untuk mengadakan pertemuan kilat di Desa Lambing. Isi instruksi dapat di tebak. untuk bersama-sana menyusun strategi serangan balasan terhadap Desa Bhun. Demikianlah besok paginya manakala fajar hampir menyingsing serangan balasan dimulai. I Gusti Ngurah Kemasan, Manca Sibang Srijati barsama Gusti Ngurah Jalantik dan Manca Panarugan mengepung dari arah barat. Sementara pimpinan tertinggi I Gusti Agung Made Munggu bersama seorang panglima andalannya I Gusti Made Munag menyerbu dari arah utara yakni dari Desa Bindu.

Kambali maletus pertempuran dahsyat antara kedua belah pihak. Menghadapu seragan terkoordinasi rapi ini, pasukan I Gusti Ngurah Bhun tidak dapat berbuat banyak, sehingga I Gusti Ngurah Bhun kalah. Sanak kaluarganya serta pasukanya kocar-kacir. Sebagian besar mereka meninggalkan Desa Bhun dan menuju desa-desa disakitarnya guna mencari perlindungan. Beberapa orang putra I Gusi Ngurah Bhun menyerahkan diri pada I Gusti Agung Made Munggu. Putra sulungnya dititahkan menempati sebuah kawasan hutan bambu lebat yang letaknya di sebelah timur dasa Lambing atau sebelah utara desa Bhun. Hutan bambu ini diistilahkan dengan Tiying Nges yang saat ini dikenal dengan desa Tinges.

Sedangkan putra lainnya menyerahkan diri pada I Gusti Agung Made Kamasan. Mereka diperintahkan rnenghuni di wilayah Bantas. Istilah Bantas berarti bentar, datar. luas. Kini wilayah Bantes menjadi banjar Bantes, sebuah banjar di desa Sibang Gede, berdekatan dengan Sibang Serijati. Seorang pendeta yang sekaligus sebagai Siwa atau penasehat I Gusti Ngurah Bhun mengalami nasib yang sarna. Mereka menyerahkan diri ke pangkuan I Gusti Agung Made Kemasan dan diberi tempat pemukiman dekat kuburan. Pemukiman ini akhirnya menjadi griya Dalem juga terletak di wilayah desa Sibang.

Peperangan telah usai, yang tertinggal hanya puing-puing reruntuhan yang menjadi saksi bisu desa Bhun yang menjadi hutan kenbali. Berkat jasa kemenangan dalam perang. I Gusti Agung Made Munggu kemudian dinobatkan menduduki singasana yang kosong semenjak wafatnya Ida Cokorda Agung Mayun. Maka berkiprahlah kebijaksanaan pemerintahan I Gusti Agung Made Munggu yang arif bijaksana. Rakyat merasa aman tentram dan makmur. Pembangungan dilaksanakan di segala sektor. juga di seluruh pelosok kerajaan. Saat itu desa Bhun yang nyaris dilupakan orang mendapat giliran untuk dibenahi. I Gusti Made Munang bersama 40 orang prajurit yang berasal dari desa Lambing. Bindu dan Sigaran mendapat tugas mulia, membangun kembali desa Bhun dari puing-puing reruntuhan akibat perang.

Maka pada hari minggu pon wuku Tambir, penanggalan 14 sasih kasa. rah 7, tenggek 9, lsakaning 1472, tepatnya tanggal 19 Juli 1575 Masehi dimulailah peletakan batu pertama usaha penyesedan (perambasan) semak-semak belukar hutan desa Bhun. Usaha itu dimulai dari bagian timur laut wilayah desa Bhun. Dalam usaha penyesedan itu ditemukan sebuah taman pemandian yang indah mempesona di bawah pohon kenanga. Air pemandian itu merniliki keunikan tersendiri dapat menyembuhkan penyakit campak. Istilah pohon kenanga kemudian melahirkan mana beji Nangga. Beji berarti taman atau pemandian.

Usaha panyesedan diteruskm lagi ke arah tenggara. Namun tidak seberapa hasil yang diperoleh para penyesed banyak terserang penyakit sehingga diduga tempat tersebut merupakan tempat keramat. Oleh karena keangkerannya maka didirikanlah dua buah pemujaan sebagai wujud istana penyawangan Ida Ratu Mas Sakti dan Ida Ratu Gede Sakti.

Sambil merawat para penyesed yang jatuh sakit, para penyesed lain terutama yang dari desa lambing juga mendirikan sebuah pura yang diberi nama pura Mas Murub. Wedalan di pura ini Jatuh pada Sabtu Pon Dungulan. Menurut hasil petuwun pada tahun 1978, pura ini pernah diganti nama menjadi pura Dalem Agung. Selanjutnya para penyesed dari Lambing diperintahkan mendirikan komplek pemukiman disekitar pura tersebut. Pemukiman itu kemudian menjadi banjar Susuk. Susuk berasal dari kata sesek yang artinya menyisipkan pada tempat yang memungkinkan.

Dari banjar Susuk, penyesedan diteruskan lagi ke arah tenggara. Kawasan ini untuk jatah para penyesed dari desa Sigaran yang kemudian disebut sebagai kawasan banjar Sigaran. Para penghuni banjar baru ini kemudian mendirikan sebuah pura yang di beri nama pura Dalem Alit. Wedalan di pura ini berlangsung setiap Selasa Kliwon Medangsia. Penyesedan tidak berhenti sampai disini. Usaha ini dilanjutkan terus ke arah barat. Dalam misi terakhir ini diupayakan membuat semacam pelataran yang begitu lapang, datar dan luas. Disinilah didirikan rumah untuk pemimpin penyesed, I Gusti Made Munang. Rumah ini disebut Jeroan Munang. Jeroan berasal dari kata Jero yang artinya rumah bangsawan, sedangkan Munang berasal dari kata Muunang yang berarti membakar, tajam, berkemampuan tinggi.

Perjalanan sang waktu merangkat terus semakin berdatangan pula pendatang baru dari desa-desa dari sekitar desabhun, seperti Sibang, Tegal, Abiansemal, Karang Dalem, Mambal dan lainnya. Sebagian besar para pendatang baru tersebut harus melakukan penyesedan hutan terlebih dahulu sebelum mereka bermukim di desa Bhun. Pada akhirnya karena pembenahan kembali desa Bhun ini berawal dari penyesedan hutan, maka desa ini diberi nama desa Sesedan. Istilah Sesedan dalam perkembangan selanjutnya mengalami perubahan bunyi sehingga mejadi desa Sedang. Nama Desa Sedang selanjutnya digunakan hingga saat ini.

Setelah usaha penyesedan dipandang selesai, maka oleh para pemuka desa waktu itu didirikanlah perangkat Kahayangan Tiga sebagai lembaganya penyungsugan penduduk yang pada kala itu semua memeluk agama hindu. Saat ini desa Sedang merupakan sebuah desa dikepalai oleh kepala desa dengan membawahi lima banjar dinas yaitu banjar adat sedang kelod, sedang kaja, Kauripan, Sigaran, Aseman. Desa Sedang juga tergabung dalam ikatan desa adapt sedang yang terdiri dari enam banjar ada yaitu banjar Adat Sedang, Aseman, Ratih, Sigaran. Tengah dan Kauripan.

  • Dibaca: 1088 Pengunjung