Bijak Dalam Mengelola Lahan, Jerami Padi Jangan di Bakar!!

  • 12 Juli 2018
  • Dibaca: 107 Pengunjung
Bijak Dalam Mengelola Lahan, Jerami Padi Jangan di Bakar!!

Sedang-12/07/2018

Jerami adalah hasil samping usaha pertanian berupa tangkai dan batang tanaman serealia yang telah kering, setelah biji-bijiannya dipisahkan. Setelah padi dipanen biasanya petani langsung membakar jerami yang telah kering tersebut.

Bila menoleh kebelakang berkisar 10 atau 20 tahun yang lalu para petani telah lama memanfaatkan jerami sebagai pupuk organik. Namun, dengan adanya pupuk anorganik berkadar hara tinggi seperti urea, SP-36, dan KCl, penggunaan jerami sebagai penyubur tanah makin berkurang. Sebagian jerami dibakar atau diangkut keluar lahan untuk pakan ternak, pembuatan kertas atau budi daya jamur merang. Pembakaran jerami perlu dihindari karena akan menyebabkan banyak hara yang hilang, yaitu hara C berkurang 94%, N 91%, P 45%, K 75%, S70%, Ca 30%, dan Mg 20% dari total kandungan hara tersebut dalam jerami.

Kompos jerami berperan penting dalam memperbaiki kesuburan fisika, kimia, dan biologi tanah. Peranan kompos jerami dalam meningkatkan kesuburan fisika tanah antara lain adalah (1)memperbaiki struktur tanah karena bahan organik dapat “mengikat” partikel tanah menjadi agregat yang mantap, (2) memperbaiki distribusi ukuran pori tanah sehingga daya pegang air (water holding capacity) tanah menjadi lebih baik dan pergerakan udara (aerasi) di dalam tanah juga menjadi lebih baik, dan (3) mengurangi fluktuasi suhu tanah.

Peranan kompos jerami terhadap kesuburan biologi tanah adalah sebagai sumber energi dan makanan bagi mikro dan meso fauna tanah. Peranan kompos jerami terhadap kesuburan biologi tanah adalah sebagai sumber energi dan makanan bagi mikro dan meso fauna tanah. jerami dapat dikomposkan dan diaplikasikan bersamaan dengan pengolahan tanah kedua. Untuk mempercepat proses pengomposan dapat digunakan dekomposer (inokulan mikroba), yang dibuat sendiri (mikroba lokal) atau membelinya di pasaran.

Pekaseh Subak Padledekan I Gusti Ngr Reta mengungkapkan, “era sekarang adalah era yang serba praktis, orang cenderung melakukan sesuatu yang mudah tanpa melihat dampak dan resiko yang ditimbulkan, saya harapkan kedepannya petani harus lebih bijak dalam mengelola lahannya”, pungkasnya. (005/KIMSDG)

  • 12 Juli 2018
  • Dibaca: 107 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita