Mengapa Mendak Sulinggih Atau Pemangku Harus Pakai Pejati ? Berikut Penjelasannya

  • 25 Juli 2018
  • Dibaca: 943 Pengunjung
Mengapa Mendak Sulinggih Atau Pemangku Harus Pakai Pejati ? Berikut Penjelasannya

SEDANG - 25/07/18

Di pulau Bali  yang mayoritas warganya adalah umat Hindu, yang mana adat,budaya dan ajaran agama sangat erat,saling berkaitan dan saling melengkapi. Sehingga bisa dikatakan adat,budaya dan agama menjadi satu kesatuan.

Khusunya di Bali sendiri dikenal ada yang namanya Banten.  Banten adalah persembahan dan sarana bagi umat Hindu mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Kuasa.  Banten juga merupakan wujud rasa terima kasih, cinta dan bakti pada beliau karena telah dilimpahi wara nugraha-Nya. Secara mendasar  dalam agama Hindu, banten juga dapat dikatakan sebagai bahasa agama.

Pengertian Banten Pejati

Pejati berasal bahasa Bali, dari kata jati” mendapat awalan pa-“Jati berarti sungguh-sungguh, benar-benar. Awalan pa- membentuk kata sifat jati menjadi kata benda pajati, yang menegaskan makna melaksanakan sebuah pekerjaan yang sungguh-sungguh.

Banten Pejati sering juga disebut “Banten Peras Daksina”.  Banten Pejati adalah sekelompok banten yang dipakai sarana untuk menyatakan rasa kesungguhan hati kehadapan Hyang Widhi dan manifestasiNya, akan melaksanakan suatu upacara dan mohon dipersaksikan, dengan tujuan agar mendapatkan keselamatan. Banten pejati merupakan banten pokok yang senantiasa dipergunakan dalam Panca Yadnya.

Unsur dan Makna Banten Pejati

Pada Banten Pejati terdapat empat unsur utama yang disebut Catur Loka Phala, yaitu terdiri dari; Daksina, Banten Peras, Penyeneng/Tehenan/Pabuat, Tipat/Ketupat Kelanan. Selain itu, di alam banten Pejati juga terdapat; Soda/Ajuman, Pasucian, dan Segehan, beserta sarana-sarana pelengkap lainnya. (006/KIMSDG)

  • 25 Juli 2018
  • Dibaca: 943 Pengunjung

Artikel Lainnya

Cari Artikel